“Matematika tidak bisa hanya dihapal”---“Belajar Matematika itu Menyenangkan”---“Matematika itu sulit karena hanya dilihat, tapi mudah setelah di coba”---“Soal-soalnya bikin ketagihan, broooo!!!”---“Math is Advanture”---“Math is about how to show life actually”
Tampilkan postingan dengan label Art of Math. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Art of Math. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Mei 2015

MATH & ART

Ketika seseorang mengatakan bahwa matematika dikatakan sebagai sebuah mata pelajaran yang mudah dan menyenangkan, apakah anda akan mengatakan YA pada pernyataan itu? Bagaimana dengan pernyataan bahwa matematika itu indah? Apakah jawaban anda juga YA? Kenapa?…
Apakah yang indah dari matematika? Bisakah matematika membuat panca indera kita mengatakan indah? Atau indah karena membuat kita berfikir logis dan terstruktur sehingga semua serba teratur? Banyak pertanyaan untuk menghubungkan antara matematika dengan keindahan. Salah satu cara memahami hubungan antara matematika dengan keindahan dapat dilakukan melalui pendekatan seni. Hal ini lebih mudah karena seni sangat dekat dengan keindahan. Matematika sebenarnya juga mempunyai hubungan yang cukup dekat dengan seni.
Liang Gie (2004:81) menyatakan bahwa matematika telah tampil dalam pertumbuhan pemikiran manusia secara sangat beraneka ragam sebagai ilmu formal, ilmu tentang bilangan dan ruang, ilmu yang mempelajari kuantitas dan keluasan, menelaah hubungan bentuk, struktur, proses pemikiran yang bersifat abstrak, deduktif, simbolik dan masih banyak lagi penyebutan lainnya. Dalam keilmuannya, matematika bisa berdiri sendiri sebagai sebuah ilmu atau bisa juga menjadi ilmu pendukung dari berbagai cabang ilmu pengetahuan lainnya.
Dua pencirian tentang matematika membuatnya terlibat dengan persoalan keindahan pada karya seni. Pencirian pertama ialah perumusan sebagai “the science of magnitude or measurement of position” ( ilmu tentang keluasan atau pengukuran dan letak). Misalnya salah satu cabang matematika yang disebut geometri proyeksi memusatkan perhatian pada letak dari titik dan garis. Peran matematika dalam seni arsitektur dan lukis sudah sangat menonjol dari dahulu. Dalam seni lukis dikenal pula istilah pengetahuan perspektif yang pada masa sebelum renaissance ( abad 14 sampai 16) belum dikenal. Dengan mulai dimanfaatkannya konsep matematis oleh para pelukis sejak abad 14, maka lukisan menjadi tampak lebih hidup, relistis dan indah. Dalam perkembangan selanjutnya, seni arsitektur juga banyak menggunakan peran matematika dalam menciptakan keindahan gambar itu sendiri maupun hasil konstruksinya.
Pencirian kedua yang dikemukakan oleh ahli matematika W.W.Sawyer (1957:12) adalah “ mathematics is classification and study of allpossible pattern. Pattern is here usedin a waythat not everybody may agree with. It is to be understood in a very wide sense, to cover almost any kind of regularity that can be recognizedby the mind” ( matematika adalah penggolongan dan penelaahan tentang semua pola yang mungkin. Pola disini dipakai dalam suatu cara yang tidak setiap orang dapat menyetujuinya. Ini dipahami dalam suatu makna yang luas, mencakup hampir setiap jenis keteraturan yang dapat dikenali oleh pikiran). Berbagai perwujudan dalam alam mempunyai suatu pola atau keteraturan.  Pola pola yang sama seringkali terkandung dalam beraneka benda atau keadaan yang tampaknya berbeda-beda. Tetapi, sekali pola alamiah yang sama itu diketahui dan dipahami oleh ahli matematika, dapat diwujudkan menjadi pola dalam matematika. Pola-pola yang terbentuk di alam (fraktal, fibbonaci dan lain sebagainya) merupakan pola yang ada di alam tetapi kemudian bisa dikembangkan menjadi karya seni yang lebih menarik. Batik, crop circle dan bahkan seni videopun sekarang banyak yang menggunakan pola fraktal sebagai sumber idenya.
Charles Saunder Peirce ( 1839-1940) pernah menyebutkan bahwa “every science has a mathematical part, a branch of work that the mathematician  is called to do”. Seiring dengan pendapat itu, dapatlah kiranya dikatakan bahwa setiap seni juga mempunyai suatu segi matematis yang dapat memanfaatkan bantuan dan pengetahuan matematika.

Kamis, 07 Mei 2015

Lukisan Matematika

Persamaan Matematika jika dituangkan dalam kanvas akan menjadi sesuatu yang indah

     


Cinta, Puisi, dan Matematika ala Sudjiwo Tedjo



Penghayatan cinta pada kalimat puisi dapat membentuk dunia baru, begitu pun penghayatan kalimat pada bahasa matematika (baca: logika). Kalau berbicara matematika orang lantas berpikir tentang hitung-hitungan. Dan semua bilangan itu pasti. Siapa bilang? Matematika bukan perkara hitung-hitungan 1+1 = 2.

Matematika tentang konsistensi logika. Logika matematika 1+1 = 2 siapa bilang pasti? Kalau menurut bilangan per sepuluh iya, tapi kalau menurut bilangan binner 1+1 tidak sama dengan 2. Matematika adalah kemampuan menangkap pola dari sesuatu yang semula tidak terjawab.

Pada bahasa lama, "cinta adalah pengorbanan"; sedang menurut logika matematika, "cinta tak perlu pengorbanan". Yang merasa ada "pengorbanan" bukan cinta nama -nya tapi kalkulasi. Dan bercintalah seperti ayam dengan cinta yang kudus!

Kita ambil contoh pada puisi-nya Sutardji Calzoum Bachri yang memang sulit untuk dipahami, tetapi sebenar-nya makna puisi tersebut diberikan sepenuhnya kepada si pembaca yang berjudul “Tapi”.


Puisi Tapi sepenuhnya mempunyai makna yang begitu mendalam, namun ternyata tidak mudah untuk memahami puisi ini. Berikut adalah petikan bunyi puisi -nya:

TAPI
oleh: Sutardji Calzoum Bachri

aku bawakan bunga padamu
tapi kau bilang masih
aku bawakan resahku padamu
tapi kau bilang hanya
aku bawakan darahku padamu
tapi kau bilang cuma
aku bawakan mimpiku padamu
tapi kau bilang meski
aku bawakan dukaku padamu
tapi kau bilang tapi
aku bawakan mayatku padamu
tapi kau bilang hampir
aku bawakan arwahku padamu
tapi kau bilang kalau
tanpa apa aku datang padamu
wah !

Penyair mengutak-atik kata-kata. Dalam bahasa sehari-hari, gimana kita membawa arwah kita yah, gimana kita membawa mayatku padamu ? (sajak dari Sutardji Calzoum Bachri ini). Bedanya di dalam puisi, itu hanya ada dalam penghayatan si pembaca : "Oh, dengan membaca itu; ketika aku datang ke kekasihku. Aku dengan penghayatan lain!"

Jadi kalimat puisi membentuk dunia baru, begitu juga kalimat matematik. Ketika ada orang yang lantas mengatakan, "Jangan mengharapkan perubahan, tetapi ciptakan perubahan". Bagi aku itu kalimat matematik yang lahir dari utak-atik, utak-atik kalimat itu.

Isi presentasi :
Ki Jancuk Sujiwo Tejo yang berjudul Math: Finding Harmony In Chaos. 
 
from : http://www.kaskus.co.id/thread/50ebbf9f1fd719f508000005/cinta-puisi-dan-matematika-ala-sudjiwo-tedjo

PANTUN MATEMATIKA

Hawa dingin bila di kutub es
Hawa panas di gurun sahara
Bila ingin menjadi sukses
Matematikalah kunci utama

Dari pada membuat onar
Membuat kue lebih baik
Kita semua haruslah sadar
Bahwa matematika sangatlah menarik

ada sungai ada batu
ada hati dan juga cinta
Pelajaran apa yang nomor Satu
Gak ada yang lain selain Matematika

kalau liburan enaknya dibali
apalagi dipantai kuta
matematika satu-satunya kunci
mencerdaskan kehidupan bangsa

Kalau kita mencari bini
Jangan lupa dipilih-pilih
Saya tutup pantun ini
Dengan ucapan terima kasih:)


from : http://anggakencanaputu.blogspot.com/2013/12/pantun-bertemakan-matematika.html

PUISI KITA

Pantun Nasehat
Karya : Seger Widodo,S.Pd (Mei 2009)

Empat tambah satu adalah lima
Satu dua tiga pola bilangan
Marilah satukan tekat kita bersama
Bersatu padu untuk pembangunan
Kalau Dua bilangan genap
Maka tiga bilangan ganjil
Kalau muda kitalah sigap
Maka kita akanlah terampil
Enam tambah lima adalah sebelas
Enam bagi tiga adalah dua
Masih muda bermalas - malas
Suatu ketika akan kecewa
Ada penyebut ada pembilang
Bilangan bulat jadi pecahan
Masih kecil disayang-sayang
Sudah besar jadi tumpuan

PANTUN MATEMATIKA

Kalau lupa memakai celana
Pasti kulit menjadi geli
Saya putu angga kencana
Orang asli dari bali

Lebih baik kulit yang mulus
Dari pada kulit yang kasar
Belajar matematika itu harus
Karena merupakan ilmu dasar

Kalau gerah enaknya berenang
Sambil makan buah kelapa
Pelajaran apa digemari banyak orang
Matematikalah jawabannya

Kalau tidak ada benang
Usahakanlah menggunakan kawat
Matematika itu akan gampang
Jika belajar dengan giat

Jalan-jalan ke kota blitar
Jangan lupa membeli nangka
Jangan engkau mengaku pintar
Kalau tidak bisa matematika



from : http://anggakencanaputu.blogspot.com/2013/12/pantun-bertemakan-matematika.html

PUISI KITA

Tak Perlu Kau Cari (Lagi)
(Tito Nurdiyanto) 


Takkan kau lihat variabel di mataku
Takkan kau dapati grafik cosinus di mulutku
Takkan kau temui asimptot-asimptot di hidungku
Karena tak perlu lagi aku ada di sudut keremangan bintang-gemintang yang kau puja
Pun di teduh bola matahari yang sering kau cubit mesra


Kemanapun kau cari modulus vektor hatiku
Akan sigap kusamarkan titik-titik mata magismu
Karena ku tahu, hatimu tak pernah menyentuh sisi-sisi hidupku.


Telusuri jalan dimana kau temui burung-burung nuri bersuara dengan eksponen hatimu
Jalani tiap barisan geometri yang tak hingga jumlahnya
Jalani tiap deret aritmatika yang tak terhitung


Sekarang pergilah
Kau takkan menemukan sesuatu yang telah hilang



Palembang, 20 Maret 2015 20:03

PUISI KITA

Selamat Pagi Palembang
(Tito Nurdiyanto) 


Kuseduh dingin subuh Palembang


Ada aroma adjoin mesra yang terungkap
Di ruang dimensi tiga
Yang ku tranformasikan disekujur deret nadimu
Setiap kali fajar bertamu, lalu pergi (lagi)
Di sudut Bonsai ini


Inikah Palembang
Tempat aku mendendang mimpi
Dengan eksponen jiwa berbalut restu petani


Segala barisan derita dihilirkan
Diagonal-diagonal hati dipautkan
Bebinar dua elipsoid dimata


Lantas Engkau berkata :
Selalu aku ucapkan selamat pagi
Meski terjal berteman integral
Meski rumit berkawan limit
Meski telah datang pangkat Sang Sinar yang tak tahu diri
Karena ku yakini
Kan selalu kutemui determinan matriks trigonometri
Selurus garis vektor dipusaran sajadah Ilahi
Tepat saat 05:09 ini. 


Palembang, 23 Maret 2015 05:09

Senin, 23 Maret 2015

Siapakah yang memelihara IKAN? (Teka Teki Albert Einstein)



Teka-Teki Albert Einstein
 Albert Einstein
Anda pasti mengenal sosok ilmuwan jenius abad ini, yang mempopulerkan teori relativitas. Yap, dialah Albert Einstein.
Masa kecil yang penuh keprihatinan tidak banyak diketahui orang. Hidup dalam kemiskinan, Einstein kecil adalah anak yang dianggap bodoh di sekolahnya. Namun masa lalu yang kelam telah tertutupi oleh keagungan namanya di dunia sains dan teknologi. Kini, Albert Einstein dikenal fisikawan sekaligus seorang filsuf di dunia ini yang sangat menguasai matematika.


Pengagas Teori Relativitas

Saya masih ingat beberapa tahun yang lalau, saat saya masih duduk di bangku kelas 3 IPA SMA , saya diberi sebuah teka-teki oleh teman saya, ditengah hangatnya topik Integral yang sedang dibicarakan oleh kami, dia tiba-tiba menantang saya dengan sebuah teka-teki yang sangat sulit untuk dijawab.
Dia mengatakan bahwa bahwa teka-teki ini tidak mengandung trik, hanya murni logika. Albert Einstein menyusun teka-teki ini pada abad lalu. Dia menyatakan, 98% penduduk dunia tidak mampu memecahkan teka-teki ini.

Apakah anda termasuk yang 2%?
Berikut ini adalah teka-tekinya...

Ada 5 buah rumah yang masing-masing memiliki warna berbeda. Setiap rumah dihuni satu orang pria dengan kebangsaaan yang berbeda-beda. Setiap penghuni rumah menyukai jenis minuman tertentu, merokok satu merk rokok tertentu dan memelihara satu jenis hewan tertentu.

INGAT: Tak satupun dari kelima orang itu yang minum minuman yang sama, merokok satu merk rokok yang sama, dan memelihara hewan yang sama seperti penghuni yang lain.

PERTANYAAN : Siapakah Yang memelihara IKAN?

PETUNJUK:
  1. Orang Inggris tinggal di dalam rumah berwarna merah
  2. Orang Swedia memelihara anjing
  3. Orang Denmark senang minum teh
  4. Rumah berwarna putih terletak tepat disebelah kiri rumah berwarna coklat
  5. Penghuni rumah berwarna putih senang minum kopi
  6. Orang yang merokok PallMall memelihara burung
  7. Penghuni rumah yang terletak ditengah-tengah senang minum susu
  8. Penghuni rumah berwarna kuning merokok Dunhill
  9. Orang Norwegia tinggal di rumah paling pertama
  10. Orang yang merokok Marlboro tinggal di sebelah orang yang memelihara kucing
  11. Orang yang memelihara kuda tinggal di sebelah orang yang merokok Dunhill
  12. Orang yang merokok Winfield senang minum bir
  13. Di sebelah rumah berwarna biru tinggal orang Norwegia
  14. Orang Jerman merokok Rothmans
  15. Orang yang merokok Marlboro bertetangga dengan orang yang minum air.

    Jadi???

Selasa, 17 Maret 2015

Menebak Umur dan Uang Saku (Math Magic)

Anda dapat menebak jumlah uang saku atau money pocket teman maupun sukarelawan. Sangat menarik bukan permainannya? Tentu saja, saya sudah menyiapkan tehnik dan cara bermainnya.
Cara perhitungan:
  1. Mintalah seorang sukarelawan untuk mengingat umurnya dan kemudian menghitung uang saku yang ia pegang sekarang.
  2. Mintalah agar uang yang ada didompetnya di nyatakan dalam ribuan. Misalnya 7.000 ditulis 7, 53.000 ditulis dengan angka 53 saja.
  3. Mintalah untuk mengalikan umurnya dengan angka 4
  4. Tambahkan dengan angka 10
  5. Kalikan dengan angka 25
  6. Kurangi dengan 365 (tahun kabisat)
  7. Tambah dengan uang saku (dalam ribuan)
  8. Tambahkan dengan angka 115
Ingatkan sekali lagi pada sukarelawan, agar perhitungan yang sudah dia hitung benar-benar betul, tidak terjadi kesalahan.
Mari kita ikuti contoh di bawah ini:
Umur sukarelawan misalkan 25, dengan membawa uang saku Rp 20.000,00 cukup di tulis dengan 20.
  1. 25 X 4 = 100
  2. 100 + 10 = 110
  3. 110 X 25 = 2.750
  4. 2.750 – 365 = 2.385
  5. 2.385 + 20 = 2.405
  6. 2.405 + 115 = 2.520
Dari ilusi di atas dengan hasil 2.520, kita dapat mengetahuinya dengan cara melihat digit 1 dan 2 yang menunjukkan umurnya, yaitu 25 tahun. Sedangkan digit 3 dan 4 adalah jumlah uang saku yang di bawahnya senilai Rp 20.000,00.

Tips: Untuk lebih mudahnya uang nominal di bawah Rp 100.000,00

Sumber: https://wendiferdintania.wordpress.com/2014/12/13/menebak-umur-dan-uang-saku-math-magic/#more-494

Senin, 16 Maret 2015

Kabayan dan Abu Nawas Membahas Matematika

Kabayan dan Abu Nawas Membahas Matematika

*Kisah Humor Sufi

Di suatu tempat Kabayan bertemu Abu Nawas untuk membahas masalah matematika.
Kabayan : "Abah Abu, sebenarnya saya ini bukan ahli matematika nih. Cuma, saya diundang berseminar matematika di sini. Menurut Abah Abu, saya harus bagaimana nih?"
Abu Nawas : "Kang Kabayan, memangnya materi apa yang akan disampaikan pada seminar kali ini?"
Kabayan : "Sebenarnya sih sederhana saja, panitia meminta saya menyampaikan tentang persamaan. Cuma mereka minta agar persamaan itu tak dibahas secara matematis, tapi dengan cara-cara yang sederhana (kalau bisa sih lucu) dan mudah dipahami oleh orang-orang biasa. Makanya saya ikut seminar ini. Kalau diminta membahas secara matematis sih, wah saya tak sanggup deh...."
Abu Nawas : "Oh begitu ya...? Coba nih saya tanya, kira-kira Kang Kabayan menyelesaikan persamaan (8-x)/3 + 2 = 4 ini bagaimana?"
Kabayan : "Secara matematis yang tepat sih, saya tak bisa menjelaskannya. Mungkin saya akan ditertawakan oleh para matematikawan-matematikawan itu. Saya bisanya dengan kata-kata saja..., dengan cara saya, seperti yang diminta panitia."
Abu Nawas: "Memangnya bagaimana? Saya juga tak mengerti bila diminta menjelaskan secara matematis. Soal tadi itu juga saya dapatkan dari kawan saya yang bertanya ke saya, dan saya tak bisa menjelaskannya secara matematis. Coba deh, menurutmu bagaimana cara penyelesaian persamaan tersebut?"
Kabayan : "Ah, Abah Abu merendah saja...."
Abu Nawas: "Serius! Saya benar-benar tidak bisa." (kali ini tampak wajah Abu Nawas terlihat serius)
Kabayan : "Baiklah kalau begitu. Begini menurut saya, persamaan itu saya ibaratkan sebuah timbangan dengan "dua tangan". Tanda sama dengan berarti seimbang." Abu Nawas menyimak Kabayan dengan sungguh-sungguh.
Kabayan: "Berarti, untuk menyelesaikan persamaan tersebut ((8-x)/3 + 2 = 4), mudahnya begini saja. Saya ibaratkan 4 itu empat buah semangka berukuran sama yang terletak di sebelah kanan timbangan. Dan di sebelah kiri, (8-x)/3 + 2 itu berarti banyaknya semangka yang saya sendiri belum tahu berapa banyaknya ditambah dua semangka." (Yang dimaksud Kabayan dengan banyaknya semangka yang ia belum tahu berapa banyaknya adalah (8-x)/3 ).
Abu Nawas: "Ya... ya ..., terus?"
Kabayan: "Nah, karena di sebelah kiri sudah jelas ada 2 semangka dan sebelah kanan ada 4 semangka, berarti bagian yang saya belum tahu ((8-x)/3 ) itu sebenarnya berjumlah 2 buah semangka. Jadinya, saya bisa tulis (8-x)/3 = 2." Kabayan tampak terdiam beberapa saat, memperhatikan persamaan baru ((8-x)/3 = 2) yang diperolehnya. Kemudian, segera setelah itu ia melanjutkan penjelasannya....
Kabayan: "(8-x)/3 = 2, artinya banyaknya suatu semangka (8-x) bila dibagi 3 sama saja dengan 2. Berarti banyaknya semangka tersebut pasti adalah 6. Makanya berarti 8-x = 6." Belum sempat melanjutkan penjelasannya, Abu Nawas segera berseru dan mengatakan begini.
Abu Nawas: "Saya mengerti, saya mengerti.... Jadinya, karena 8-x = 6, artinya delapan semangka dikurangi berapa semangka (nilai x) hasilnya 6 kan? Pasti banyaknya semangka itu (di persamaan ini diberi symbol x) adalah 2, benar kan?"
Kabayan: "Ya benar.... Tuh kan, Abah Abu cuma merendah saja...."
Abu Nawas: "Ah *engga* juga, kamu benar-benar bagus penjelasannya. Makanya saya gampang mengerti."

Abu Nawas tertawa gembira, karena ia mengerti penjelasan Kabayan. Kemudian, ia pun bercerita pada Kabayan bahwa ia diundang ke seminar ini pun bukan karena ia mengerti matematika. Tapi, ia diminta panitia untuk menjelaskan sastra (bahasa) terkait dengan matematika. Karena katanya, Matematika itu adalah bahasa juga, tapi berupa bahasa symbol.

Abu Nawas: "Sekarang saya jadi mengerti persamaan itu apa. Ini memudahkan saya untuk bercerita tentang matematika sebagai bahasa symbol nanti siang", begitu kata Abu Nawas dengan nada optimis.
Kabayan: "Sekarang, gantian saya yang mau bertanya nih sama Abah Abu...."
Abu Nawas: "Ah kang Kabayan, jangan nanya yang susah-susah ya...?"
Kabayan: "Justru ini pertanyaan susah yang belum bisa saya jawab. Begini ceritanya, seminggu yang lalu presiden memberi potongan hukuman bagi para tahanan. Bahwa semua tahanan diberi potongan berupa setengah dari masa hukuman yang harus dijalani tiap tahanan tersebut. Untuk tahanan yang dihukum 10 tahun, karena dipotong setengahnya, jadinya ia cuma tinggal menjalani hukuman 5 tahun saja. Bila seorang tahanan dihukum 20 tahun, karena dipotong setengahnya jadinya tinggal 10 tahun saja. Begitu seterusnya. Ketetapan ini sudah diputuskan oleh presiden dan tak bisa diubah!"
Abu Nawas: "Terus, masalahnya apa?"
Kabayan: "Ini sebenarnya masalah matematika juga, cuma matematikawan-matematikawan di negeri saya tak ada yang sanggup menjawabnya. Masalahnya begini, karena ada tahanan yang dihukum seumur hidup (sampai sang tahanan tersebut meninggal), artinya kan harus ditentukan berapa lama sisanya ia akan dihukum? Padahal tak ada yang tahu kapan seseorang itu meninggal. Tak ada yang tahu berapa lama umur seseorang itu. Masalah ini jadi heboh di seluruh Indonesia dikarenakan presiden dengan ceroboh menetapkan kebijakannya tersebut. Belum ada yang bisa memecahkannya. Paranormal seperti dukun, tukang ramal nasib, tukang tenung, mentalist (semisal Dedi Corbuzier) dan sebangsanya itu tak bisa memecahkannya. Cendekiawan yang terkenal cerdik pun semisal Gus Dur dibikin repot karenanya (padahal Gus Dur terkenal dengan perkataannya, "Gitu aja kok repot." Tapi, kali ini benar-benar ia repot dibuatnya). Para matematikawan pun yang pintar-pintar itu angkat tangan mencari solusinya. Dan ini menjadi isu nasional. Jadi, bagaimana Abah Abu menyelesaikannya?"
Abu Nawas: "Ooooh begitu ya? Berat juga masalahnya kalau begitu. Tapi, beri saya waktu sepuluh menit saja, saya habiskan dulu ya makanan saya...." Kabayan pun mempersilakan Abu Nawas menghabiskan makanannya. Sambil makan, tampak Abu Nawas berfikir dengan serius. Dan, segera setelah habis makanannya, tampak cerialah wajah Abu Nawas, pertanda ia punya pemecahan masalah tersebut.
Abu Nawas: "Hahaa.... Menurut saya begini saja, masalah ini bisa diselesaikan dengan konsep persamaan yang telah kamu jelaskan tadi...."
Kabayan: "Oh ya...? Bagaimana?"
Abu Nawas: "Karena persamaan itu menurutmu berarti seimbang, atau keseimbangan, masalah pemotongan masa hukuman tersebut ya mudah saja diselesaikan. Begini caranya, supaya orang yang dihukum seumur hidup itu dapat potongan hukuman setengah masa hidupnya, cara menghukumnya begini saja. Sehari ia ditahan, sehari ia dibebaskan, begitu seterusnya hingga ia meninggal. Seimbang bukan, seperti persamaan kan?"
Kabayan: "Subhanallah, Alhamdulillah... benar-benar penyelesaian yang sangat cantik, dan sesuai konsep persamaan. Luar biasa, luuuuuuuuuuuuar biasa! Saya bersyukur bisa bertemu Abah Abu di tempat ini. Terimakasih ya Abah Abu...."

Minggu, 22 Februari 2015

Isakkan Sin-Cos-Tan



( Puisi karya Tito Nurdiyanto-Pendidikan Matematika UNSRI)

Hmm….
Hanya menatap
Belum bisa melakukan ataupu mengitung apa-apa
Punya segalanya, nol tak bernilai
Untuk sekarang

Dulu layaknya wajah tanpa bintik-bintik hitam (x,y)
Tak ada jerawat di setiap garis khayalan
Punya alis mata rapi bukan diarsir juga
Bola mata yang kongruen dan ekuivalen
Sangat memukau

Ternyata
Dahinya terlihat jelas, garis-garis sin yang perkepanjangan
Badan tegak vertikal
Dada bidang segitiga sama kaki
Selalu ada senyum yang meluluhkan sulitnya trigonometri tanpa melihat variabel asal usul
Sangat mengagumkan

Ucapan dan pikiran
Ditambah
Dikurang
Dikali          
Dibagi         
Dikuadratkan
Hasilnya selalu berharga mutlak
Mutlak

HALAH…….
Itu hanya deskripsi zaman dahulu

Sekarang
Awan hitam mendominasi
Kelam mengeliminasi
Politik mensubtitusi
Interval kehidupan mengantar pasukan trigonometri yang menakutkan tanpa senyum

Sekarang?
Semua TERBALIK
“coba hitung, tiga belas juta pangkat tiga belas ribu”
Enggan

Hujan
Matahari-matahari
Jangan sembunyi
Datanglah!!!!!!!!!!!!!!
Layaknya barisan geometri, berderet-deret.

Oh
Pendidikan Indonesia, sayang……

Joke Matematika

Diambil dari : https://skakmath.files.wordpress.com/2009/11/komik-matematika-4.png

KEAJAIBAN MATEMATIKA

Sekedar teruskan broadcast
1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
... 1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 + 10 = 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888

Hebatkan?
Coba lihat simetri ini :

1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321

kurang hebat,,,,
Sekarang lihat ini

Jika 101% dilihat dari sudut pandangan Matematika, apakah ia sama dengan 100%, atau ia LEBIH dari 100%?
Kita selalu mendengar orang berkata dia bisa memberi lebih dari 100%, atau kita selalu dalam situasi dimana seseorang ingin kita memberi 100% sepenuhnya.
Bagaimana bila ingin mencapai 101%?
Apakah nilai 100% dalam hidup?
Mungkin sedikit formula matematika dibawah ini dapat membantu memberi
jawabannya.

Jika ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ

Disamakan sebagai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Maka, kata KERJA KERAS bernilai :
11 + 5 + 18 + 10 + 1 + 11 + 5 + 18 + 19 + 1 = 99%

H-A-R-D-W-O-R-K
8 + 1 + 18 + 4 + 23 + !5 + 18 + 11 = 99%

K-N-O-W-L-E-D-G-E
11 + 14 + 15 + 23 + 12 + 5 + 4 + 7 + 5 = 96%

A-T-T-I-T-U-D-E
1 + 20 + 20 + 9 + 20 + 21 + 4 + 5 = 100%

Sikap diri atau ATTITUDE adalah perkara utama untuk mencapai 100% dalam hidup kita.

Tapi, LOVE OF GOD
12 + 15 + 22 + 5 + 15 + 6 + 7 + 15 + 4 = 101%
(•ˆ⌣ˆ‎​​​​•)J

Diambil dari : http://jokebb.blogspot.com/2012/02/keajaiban-matematika.html

Joke Matematika


Diambil dari :https://uchaoktavia.files.wordpress.com/2012/03/tak-hingga.jpg